Langsung ke konten utama

Postingan

Ayahku meninggal dunia. Kamu baru tahu, kan?

Dia memutuskan persahabatan kami begitu saja. Setelah semua yang kami lalui berdua selama tujuh tahun, dia memutuskanku. Dia pergi dari hidupku tanpa pertanda apa-apa. Dia pergi di saat aku sebentar lagi akan meraih impianku. Dia pergi di saat-saat terpenting dalam hidupku. Aku jadi bertanya-tanya, apakah selama tujuh tahun kami bersama, dia hanya memanfaatkanku saja untuk keuntungannya sendiri? Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang dia manfaatkan dariku? Aku miskin, aku tidak punya apa-apa, aku selalu bergantung kepadanya. Dia adalah seorang putri yang hidup di istana dengan segala sesuatu yang tak perlu ia minta, tapi selalu tersedia. Aku sering membaca penelitian, bahwa sahabat yang sesungguhnya adalah sahabat yang bisa bertahan denganmu lebih dari empat tahun. Kami sudah tujuh tahun. Pertama kali bertemu saat sama-sama menjadi mahasiswa baru, walaupun dengan jurusan yang berbeda. Dia adalah satu-satunya orang yang pernah melihatku menangis. Dia adalah satu-satunya oran...

Temanku Bukan Pelacur

Dia kehilangan dirinya sendiri. Aku bisa melihat itu dari matanya. Aku meyakini itu dari tindakannya selama ini. Aku perlu membawanya kembali. Aku perlu membuatnya mengerti bahwa dirinya begitu berarti. Akan tetapi, niat itu sudah hancur beberapa saat lalu saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri perbuatannya selama beberapa bulan belakangan. Secara membabi buta aku memukuli lelaki itu dan mengusirnya keluar. Aku menutup pintu dengan kasar dan kemudian bersandar seolah tidak kuasa menahan beban tubuhku sendiri. Perlahan, aku jatuh terduduk sambil menganga tak percaya. Di hadapanku, berdiri sesosok perempuan yang kukenal lebih dari 10 tahun lalu dengan rambut panjangnya yang acak-acakan, kaus putih longgar, dan kaki jenjang yang telanjang. Aku menutup mulutku menahan emosi dan tangis yang akan meledak. Tenggorokanku tercekat, aku takut dengan suaraku sendiri. Sementara perempuan itu sudah terlebih dahulu menangis dan duduk terjatuh. Ada jarak empat langkah yang harusnya kutempuh...

Curhat Seorang Kawan

Hai, kawan, begitu lama kita tak berjumpa kembali, merangkai kisah yang terlanjur terucapkan, tentang mereka, orang yang paling berarti dalam hidup kita, yang telah melukai diri kita terlalu dalam dengan cara saling menyakiti. Kemarin, aku begitu merindukanmu. Masih sama, dalam rasa sesak yang dipenuhi ragu, aku kembali mengingat tentang mereka. Mungkinkah kamu juga demikian? Atau ada luka baru yang timbul, namun kamu enggan untuk mencariku padahal aku selalu menunggumu. Menunggumu dengan kisah sedihmu yang tak mampu kau ungkapkan kepada siapapun. Kawan, sudah sejak awal kita bertemu dan saling bercerita, aku merasa takdir tidak terjadi begitu saja. Aku dan kamu dipertemukan dengan cerita dan luka yang sama. Bedanya, aku lebih dulu dan kamu menyusul kemudian. Akan tetapi, rasa sakit itu nyata bahkan sampai sekarang. Aku hanya tidak percaya, bahwa ada sosok anak lain yang juga merasakan rasa sakitku dulu. Aku melihatnya begitu nyata dan pedih dalam tatap matamu ketika bercerita, ...

SENJA YANG HILANG AKIBAT REKLAMASI

Seseorang pernah berkata, dalam dunia kapitalis orang miskin akan bertambah miskin sedangkan orang kaya akan bertambah kaya. Aku ingat. Guru Ekonomiku pernah berkata demikian. Pernyataannya itu membuatku berpikir, siapa yang bertambah miskin dan siapa yang bertambah kaya? Mengapa kata 'bertambah' harus mewakili dua sisi yang begitu bertolak belakang. Miskin dan kaya. Miskin. Aku sering mendengar kata itu. Di jalanan, orang-orang berteriak hampa ke lautan kerajaan yang bahkan tak peduli. Di televisi, para pembawa berita yang cantik dan tampan, mungkin juga kaya, selalu memberitakan bahwa statistik kemiskinan di negara ini semakin meningkat. Kemiskinan merajalela sehingga pemerintah melakukan berbagai macam cara untuk menanggulanginya. Sebagai orang yang merasa miskin, apakah kalian tidak menganggap diri kalian sebagai tersangka? Pemerintah katanya pusing menanggulangi kalian. Kaya. Sepertinya aku juga sering mendengar kosakata itu. Ya, sangat sering, apalagi ketika Ayah d...

Kamu dan Milkshake

Ini untuk Adit yang tadi Milkshake-nya terasa kurang manis haha Aku melihatmu meminum Milkshake itu dengan takjub. Tidak pernah ada seorangpun di dunia ini memiliki mimik wajah yang aku sukai saat menyantap minuman itu. Kamu memejamkan mata untuk menghayati beberapa detik yang kamu habiskan bersama minuman yang berbahan dasar susu, es krim dan sirop yang dikocok itu. Kamu seolah melupkanku yang sedang duduk dihadapanmu dengan sabar. Kamu dan Milkshake. Selalu tempat yang sama dan jenis minuman serupa setiap kali kita berjumpa.  Hari ini kamu berkata bahwa Milkshake yang kamu pesan terasa kurang manis. Namun, entah mengapa kamu mengucapkan itu dengan wajah sukacita. Aku bertanya-tanya mengapa Milkshake yang tidak semanis biasanya saja bisa membuat kamu senang. Bahagia kamu memang sesederhana itu. Kamu dan Milkshake. Aku memerhatikan bagaimana hujan jatuh membasahi tanah dibawah sana. Aku selalu menyukai bau hujan ketika menyentuh tanah atau aspal. Disaat itulah kamu ters...

UNTITLED

Sudah satu bulan. Empat minggu. Tiga puluh hari. Tiga puluh kali pergantian siang dan malam. Tujuh ratus dua puluh jam. Empat puluh tiga ribu dua ratus menit. Detik mungkin tak perlu kuhitung. Selama itu waktu yang kamu habiskan hanya untuk menghukum dirimu sendiri. Menghukum diri sendiri atas kesalahan yang sepenuhnya bukanlah milikmu. Kamu tak pernah lagi bangun di pagi hari. Kamu tidur sepanjang hari. Kamu tak pernah lagi memandangku. Kamu menatap kehampaan sepanjang waktu. Bahkan, untuk menggerakkan setitik jari saja, kamu tak kuasa. Aku selalu ada disisimu. Selalu. Bahkan sepanjang waktu, hanya untuk melihatmu berdiam diri atau menangis. Kamu tidak mau berbicara. Aku selalu bertanya, apalagi yang salah? Kamu menatapku. Bukan jawaban, hanya tangisanlah yang lolos dari bibir tipismu. Disaat seperti itu aku selalu memeluk tubuhmu yang meringkuk tak bergerak. Apakah kamu tidak sakit? Maksudku, dengan posisi tubuhmu selama sebulan ini diatas ranjang. Tidakkah kamu rindu untuk bangun, ...

"Hai, nama saya Senja..." (1)

“Hai, nama saya Senja…” Aku menelan ludah berat. Mengapa setelah sekian lama aku mencoba berlari, dia datang lagi meski dalam sosok yang berbeda. Ini mengingatku akan hari-hari terakhirnya, disaat dia berbisik padaku mengatakan bahwa dia akan datang kembali. Dia berjanji. Pasti. Aku saat itu hanya tersenyum, tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Dia menangis dipelukanku saat aku mengatakan bahwa tak lama lagi Waktu akan memisahkan kami. Kami sama-sama tahu, bahkan sebelum kami berdua bertemu. Aku, selalu berprinsip bahwa bersama untuk berpisah dan menerima hanya untuk melepaskan. Dia hanya tidak menyangka bahwa akan secepat ini. Aku sudah memperingatkannya dari awal. Kami tak akan pernah bertahan lama. Aku bukan manusia immortal yang akan hidup abadi bersamanya, begitupun dengan dia.   Kami memahami cinta dalam perspektif yang berbeda dari biasanya. Kami percaya cinta hanya akan membuat kami mecandu dan bergantung. Konsep cinta hanyalah sesuatu yang diciptakan manusia un...