Langsung ke konten utama

Novel Selanjutnya (InsyaAllah)

Aku melihatmu. Lututku goyah tak bersisa. Bisakah aku kembali?
Aku ingin mendekap tubuhmu yang kedinginan itu.
Mengapa matamu begitu kosong? Kukira dunia telah direnggut begitu kejam darimu.
Oh, kamu begitu indah. Kukira akan ada orang lain yang menggantikanku.

Aku ingin kamu melihatku. Tapi, kamu melihat menembus diriku.
Hatiku begitu terluka sampai ingin menangis.
Kamu tahu aku ada disini? Aku selalu ada.
Tapi kamu dimana?
Bukankah aku yang pergi?
Tapi, kenapa kamu yang hilang?

Aku hanya pergi tanpa jua menghilang.
Aku kembali tanpa membisikan apalagi menyentuhmu.
Sekarang, menangislah..
Mengapa kamu masih juga menangis dalam hati?
Aku ada disini..

Tak adakah orang lain yang menghiburmu?
Tak adakah dia yang membelai rambutmu dan memelukmu hingga kamu sulit untuk bernafas?
Aku sungguh ada, kamu hanya tidak mau merasakannya.

Mengertilah, aku tidak lagi bernafas.
Aku tidak bisa lagi menyentuhmu.
Aku tidak bisa lagi menyanyikan lagu-lagu cinta itu.
Dan maaf bahwa aku tidak bisa lagi menangis karena aku sudah lama pergi.

Kemudian, aku melihat kamu membuka mulutmu yang lemah.
Ini yang kamu ucapkan, "Jiwaku mati bersama kematianmu. Dan aku tidak mau kembali..."
Tak lama, hujan turun membasahi bumi, tubuhmu dan....... nisanku.

Aku selalu mencintaimu, kamu hanya perlu merasakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS CERPEN VARKA HANYA INGIN TIDUR - ANTON CHEKOV

VARKA HANYA INGIN TIDUR - ANTON CHEKOV I.                   UNSUR INSTRINSIK TOKOH a.        Varka b.       Bayi c.        Afanasy d.       Yefim Stepanov e.        Pelageya f.        Dokter PENOKOHAN TOKOH UTAMA a. Varka >> Penakut terhadap majikannya Jika Varka sampai - Tuhan melarang! - jatuh tertidur, majikan dan istrinya akan memukulnya. >> Penuh penderitaan Dia menampar Varka dibelakang telinganya. Varka menggoyangkan kepalanya, lalu ia mengayunkan ayunan bayi dan menyanyikan lagu ninabobo. >> Penurut   "Varka, pergilah sebentar dan beli tiga botol bir!" Dia beranjak pergi dan mencoba berlari secepat mungkin untuk mengusir rasa kantuk. >> Tid...

Curhat Seorang Kawan

Hai, kawan, begitu lama kita tak berjumpa kembali, merangkai kisah yang terlanjur terucapkan, tentang mereka, orang yang paling berarti dalam hidup kita, yang telah melukai diri kita terlalu dalam dengan cara saling menyakiti. Kemarin, aku begitu merindukanmu. Masih sama, dalam rasa sesak yang dipenuhi ragu, aku kembali mengingat tentang mereka. Mungkinkah kamu juga demikian? Atau ada luka baru yang timbul, namun kamu enggan untuk mencariku padahal aku selalu menunggumu. Menunggumu dengan kisah sedihmu yang tak mampu kau ungkapkan kepada siapapun. Kawan, sudah sejak awal kita bertemu dan saling bercerita, aku merasa takdir tidak terjadi begitu saja. Aku dan kamu dipertemukan dengan cerita dan luka yang sama. Bedanya, aku lebih dulu dan kamu menyusul kemudian. Akan tetapi, rasa sakit itu nyata bahkan sampai sekarang. Aku hanya tidak percaya, bahwa ada sosok anak lain yang juga merasakan rasa sakitku dulu. Aku melihatnya begitu nyata dan pedih dalam tatap matamu ketika bercerita, ...

Satu Cerita dalam Dua Surat Berbeda

Setiap orang punya cerita masing-masing tentang cinta mereka. Dalam suatu hubungan, pasti ada dua cerita yang berbeda. Tak jarang, bahkan mungkin pasti, itu juga yang terjadi dalam cerita cinta orangtua kita. Coba tanyakan kepada Papa dan Mama kalian, minimal. kalian akan menemukan detail berbeda dalam satu cerita yang sama:') Tulisan dibawah ini hanya fiksi, bukan buat menyinggung siapapun. 1. Surat dari Ibu untuk 'Nan...' Aku mulai menulis buku ini ketika tahu bahwa suatu hari akan ada orang yang membutuhkannya. Nan, aku menulis buku ini tepat ketika kamu baru berusia 6 tahun. Kamu mulai masuk kelas 1 SD dan aku begitu bangga padamu. Hari pertama sekolah kamu begitu riang menggenggam tanganku sambil berlari kecil. Kamu bilang bahwa kamu tidak sabar untuk bertemu teman-teman barumu. Aku menciumi wajahmu ketika kamu akan masuk kelas. Kamu melambaikan tangan sebelum memasuki ‘hidup’ barumu. Betapa bahagianya aku hari itu, Nan. Aku merasa telah melewati fase pertama ...