Langsung ke konten utama

Novel Selanjutnya (InsyaAllah)

Aku melihatmu. Lututku goyah tak bersisa. Bisakah aku kembali?
Aku ingin mendekap tubuhmu yang kedinginan itu.
Mengapa matamu begitu kosong? Kukira dunia telah direnggut begitu kejam darimu.
Oh, kamu begitu indah. Kukira akan ada orang lain yang menggantikanku.

Aku ingin kamu melihatku. Tapi, kamu melihat menembus diriku.
Hatiku begitu terluka sampai ingin menangis.
Kamu tahu aku ada disini? Aku selalu ada.
Tapi kamu dimana?
Bukankah aku yang pergi?
Tapi, kenapa kamu yang hilang?

Aku hanya pergi tanpa jua menghilang.
Aku kembali tanpa membisikan apalagi menyentuhmu.
Sekarang, menangislah..
Mengapa kamu masih juga menangis dalam hati?
Aku ada disini..

Tak adakah orang lain yang menghiburmu?
Tak adakah dia yang membelai rambutmu dan memelukmu hingga kamu sulit untuk bernafas?
Aku sungguh ada, kamu hanya tidak mau merasakannya.

Mengertilah, aku tidak lagi bernafas.
Aku tidak bisa lagi menyentuhmu.
Aku tidak bisa lagi menyanyikan lagu-lagu cinta itu.
Dan maaf bahwa aku tidak bisa lagi menangis karena aku sudah lama pergi.

Kemudian, aku melihat kamu membuka mulutmu yang lemah.
Ini yang kamu ucapkan, "Jiwaku mati bersama kematianmu. Dan aku tidak mau kembali..."
Tak lama, hujan turun membasahi bumi, tubuhmu dan....... nisanku.

Aku selalu mencintaimu, kamu hanya perlu merasakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku

"Banyak yang bilang kalau orang udah putus sama pacarnya harus move on karena untuk apa membuka buku lama yang sama padahal kita udah tahu endingnya? Terus gimana sama seseorang yang tiba-tiba move on dari buku yang bahkan belum dia buka sama sekali? Samakah rasa sakitnya?" Post kali ini khusus buat Ratih Dwi Jayanti :') Jawaban yang terbaik yang bisa gue kasih adalah sebagai berikut. Gue memang gatahu rasa sakit karena diperlakukan seperti itu sama cowo gimana.  Tapi, pas nerima sms dari lo hari ini tanggal 27 Januari 2015 Pukul. 23.32 gue jadi mikir secomplecated apa perasaan lo. Gue udah sering banget denger cerita orang itu dari lo, setiap hari bahkan. Satu yang kurang, gue ga pernah ketemu dan gapernah mengenal orang itu. Gue kadang juga ngasih saran asal yang kadang ngebuat lo tambah bingung sama diri lo sendiri. Ditambah jawaban-jawaban orang selain gue yang belum tentu mengenal lo dengan baik sebaik gue. Gue lagi ngekhayalin lo jadi cewe yang duduk ...

Ayahku meninggal dunia. Kamu baru tahu, kan?

Dia memutuskan persahabatan kami begitu saja. Setelah semua yang kami lalui berdua selama tujuh tahun, dia memutuskanku. Dia pergi dari hidupku tanpa pertanda apa-apa. Dia pergi di saat aku sebentar lagi akan meraih impianku. Dia pergi di saat-saat terpenting dalam hidupku. Aku jadi bertanya-tanya, apakah selama tujuh tahun kami bersama, dia hanya memanfaatkanku saja untuk keuntungannya sendiri? Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang dia manfaatkan dariku? Aku miskin, aku tidak punya apa-apa, aku selalu bergantung kepadanya. Dia adalah seorang putri yang hidup di istana dengan segala sesuatu yang tak perlu ia minta, tapi selalu tersedia. Aku sering membaca penelitian, bahwa sahabat yang sesungguhnya adalah sahabat yang bisa bertahan denganmu lebih dari empat tahun. Kami sudah tujuh tahun. Pertama kali bertemu saat sama-sama menjadi mahasiswa baru, walaupun dengan jurusan yang berbeda. Dia adalah satu-satunya orang yang pernah melihatku menangis. Dia adalah satu-satunya oran...

UNTITLED

Sudah satu bulan. Empat minggu. Tiga puluh hari. Tiga puluh kali pergantian siang dan malam. Tujuh ratus dua puluh jam. Empat puluh tiga ribu dua ratus menit. Detik mungkin tak perlu kuhitung. Selama itu waktu yang kamu habiskan hanya untuk menghukum dirimu sendiri. Menghukum diri sendiri atas kesalahan yang sepenuhnya bukanlah milikmu. Kamu tak pernah lagi bangun di pagi hari. Kamu tidur sepanjang hari. Kamu tak pernah lagi memandangku. Kamu menatap kehampaan sepanjang waktu. Bahkan, untuk menggerakkan setitik jari saja, kamu tak kuasa. Aku selalu ada disisimu. Selalu. Bahkan sepanjang waktu, hanya untuk melihatmu berdiam diri atau menangis. Kamu tidak mau berbicara. Aku selalu bertanya, apalagi yang salah? Kamu menatapku. Bukan jawaban, hanya tangisanlah yang lolos dari bibir tipismu. Disaat seperti itu aku selalu memeluk tubuhmu yang meringkuk tak bergerak. Apakah kamu tidak sakit? Maksudku, dengan posisi tubuhmu selama sebulan ini diatas ranjang. Tidakkah kamu rindu untuk bangun, ...